2 Nenek di Karawang Tinggal di Kandang Kambing
September 10, 2019
kenbooNews – Mak Ichi dan Mak Uka adalah dua orang nenek asal karawang ini tinggal di kandang kambing. “Ini rumah saya yang pintunya bodol (bolong/rusak)…” kata Mak Ichi (75) sambil tertawa saat menerima tim Redaksi di kediamannya di Desa Medangasem, Jayakerta, Karawang – Jawa Barat, Minggu (8/9).
Nenek berkerudung hitam itu sudah sekitar 10 (sepuluh) tahun hidup dengan kakanya, Mak Uka (80) dan tinggal di tempat yang tidak selayaknya untuk dihuni oleh manusia. Warga sekitar menyebutnya kandang kambing karena ada 10 ekor kambing yang hidup bersama mereka.
Menuju ke tempat tinggal Mak Ichi dan Mak Uka, harus ditempuh sekitar 20 menit lamanya berkendara dari jalan besar ke jalanan desa yang masih bisa dilalui oleh mobil. Lalu, dari gang terluar harus berjalan kaki lagi sekitar 5 menit.
Lalu tampaklah sebuah rumah berdinding bilik yang sudah bolong pada bagian depannya dan juga sebagian lainnya sudah ditutupi oleh kayu. Rumah itu beralaskn tanah, tak ada se-jengkal pun lantai. Lalu jika kita menengok ke bagian atap, tampak banyak sekali titik-titik cahaya yang masuk karena genting yang sudah bolong.
Untuk tidur, Mak Ichi dan Mak Uka akan merebahkan diri mereka pada dua dipan kayu terpisah yang masing-masing bercampur sebagai tempat menyimpan sembako dan juga pakaian. “Ini kandang kambing, dan ini tanah orang lain” Kata Mak Ichi.
Sebelum tinggal di kandang kambing, mereka berdua sempat tinggal disebuah rumah yang berada tepat didepan tempat mereka tinggal sekarang. Rumah itu dulunya milik mereka, namun lambat laun menjadi rusak dan tidak layak untuk dihuni. Sejak 10 tahun terakhir ini kedua lansia tersebut tinggal satu atap bersama 10 ekor kambing. Mak Ichi dan Mak Uka mengaku beraktivitas dari tidur hingga makan di kandang kambing tersebut.
“Malam tidur pernah di kencingi kambing.” Ujar Mak Ichi.
Untuk bertahan hidup, Mak Ichi terpaksa menjadi penggembala 10 kambing yang tinggal dirumahnya dengan upah Rp10-15 ribu rupiah per-hari nya. Sedangkan Mak Uka mengemis di dekat Pom besin yang berjarak sekitar 5km dari rumahnya.
“ Kambing nya punya orang lain. Saya urus makan, dan ngambil rumput.” Lanjut Mak Ichi.
Namun aktivitas mereka tidak lagi selincah dulu. Tampak Mak Uka dan Mak Ichi terbata-bata saat melangkahkan kakinya. Begitu juga ketika berbicara, mereka sulit untuk mendengar meski ramah dan selalu ceria.
“ Kadang dapat Rp20 ribu hasil dari mengemis.” Ujar Mak Uka sembari duduk di kursi yang penuh dengan bekas kotoran kambing dirumahnya. Keadaan akan semakin suram bila Mak Uka tidak mendapatkan hasil dari mengemis. Biasanya uang hasil mengemis dibelikan untuk obat nyamuk dan juga beras.
Nenek berkerudung hitam itu sudah sekitar 10 (sepuluh) tahun hidup dengan kakanya, Mak Uka (80) dan tinggal di tempat yang tidak selayaknya untuk dihuni oleh manusia. Warga sekitar menyebutnya kandang kambing karena ada 10 ekor kambing yang hidup bersama mereka.
Menuju ke tempat tinggal Mak Ichi dan Mak Uka, harus ditempuh sekitar 20 menit lamanya berkendara dari jalan besar ke jalanan desa yang masih bisa dilalui oleh mobil. Lalu, dari gang terluar harus berjalan kaki lagi sekitar 5 menit.
Lalu tampaklah sebuah rumah berdinding bilik yang sudah bolong pada bagian depannya dan juga sebagian lainnya sudah ditutupi oleh kayu. Rumah itu beralaskn tanah, tak ada se-jengkal pun lantai. Lalu jika kita menengok ke bagian atap, tampak banyak sekali titik-titik cahaya yang masuk karena genting yang sudah bolong.
Untuk tidur, Mak Ichi dan Mak Uka akan merebahkan diri mereka pada dua dipan kayu terpisah yang masing-masing bercampur sebagai tempat menyimpan sembako dan juga pakaian. “Ini kandang kambing, dan ini tanah orang lain” Kata Mak Ichi.
Sebelum tinggal di kandang kambing, mereka berdua sempat tinggal disebuah rumah yang berada tepat didepan tempat mereka tinggal sekarang. Rumah itu dulunya milik mereka, namun lambat laun menjadi rusak dan tidak layak untuk dihuni. Sejak 10 tahun terakhir ini kedua lansia tersebut tinggal satu atap bersama 10 ekor kambing. Mak Ichi dan Mak Uka mengaku beraktivitas dari tidur hingga makan di kandang kambing tersebut.
“Malam tidur pernah di kencingi kambing.” Ujar Mak Ichi.
Untuk bertahan hidup, Mak Ichi terpaksa menjadi penggembala 10 kambing yang tinggal dirumahnya dengan upah Rp10-15 ribu rupiah per-hari nya. Sedangkan Mak Uka mengemis di dekat Pom besin yang berjarak sekitar 5km dari rumahnya.
“ Kambing nya punya orang lain. Saya urus makan, dan ngambil rumput.” Lanjut Mak Ichi.
Namun aktivitas mereka tidak lagi selincah dulu. Tampak Mak Uka dan Mak Ichi terbata-bata saat melangkahkan kakinya. Begitu juga ketika berbicara, mereka sulit untuk mendengar meski ramah dan selalu ceria.
“ Kadang dapat Rp20 ribu hasil dari mengemis.” Ujar Mak Uka sembari duduk di kursi yang penuh dengan bekas kotoran kambing dirumahnya. Keadaan akan semakin suram bila Mak Uka tidak mendapatkan hasil dari mengemis. Biasanya uang hasil mengemis dibelikan untuk obat nyamuk dan juga beras.
Dimana Keluarga?
Mak Ichi tidak pernah menikah. Sementara Mak Uka ditinggal suaminya saat hamil anak pertama. Anak itu lalu meninggal di usia 7 hari kemudian sejak saat itu Mak Uka tidak pernah menikah lagi.
“Anak saya meninggal pada usia 7 hari,” ucap Mak Uka.
“Anak saya meninggal pada usia 7 hari,” ucap Mak Uka.
Sumber: https://kumparan.com/@kumparannews/bertemu-mak-ichi-dan-uka-nenek-tinggal-di-kandang-kambing-di-karawang-1rp92xe5FVk

